Senin, 18 Januari 2010

DATU HAMAWANG KANDANGAN

Datu Hamawang Kandangan

Datu Hamawang atau Datu Bungkul bergelar Tumenggung Raksa Yuda atau Pangeran Kecil, dan gelar Datu Hamawang inilah yang lebih dikenal.

Datu Hamawang selain orang yang sakti mandraguna, beliau juga sebagai seorang pahlawan dan sebagai seorang ulama panutan yang sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat, sehingga segala keputusan yang akan dilaksanakan di daerah tersebut terlebih dahulu meminta saran dan pendapat bahkan persetujuan beliau. Menurut penuturan orang-orang tua, yang mula-mula memeluk agama islam di daerah ini adalah Datu Hamawang, kemudian beliau menyebarkan agama islam dan membangun sebuah mesjid di hamawang (mesjid Quba) di bantu oleh Datu Ulin dan Datu Basuhud yang akhirnya kawin dengan adik Datu Hamawang yang bernama Datu Salayan.

Menurut cerita, Datu Hamawang adalah orang yang dikaruniai umur yang panjang, umur beliau mencapai 300 tahun.

Datu Hamawang mempunyai 4 orang bersaudara:

1. Datu Balimbur. Beliau juga disebut Datu Kurungan, karena beliau memelihara buaya putih dalam kurungan, konon ketika Pangeran Suriansyah mendirikan istana kerajaan (sekarang lokasi Mesjid Kuin), buaya putih ini ikut juga membantunya. Terakhir beliau bermukim di daerah Barito. Zuriyat beliau adalah Garuntung Manau dan Garuntung Waluh, suku Dayak Biaju Hampatung. Sekarang zuriyat beliau ada di Hamawang, Sungai Kudung, Telaga Langsat, Lumpangi dan Daerah Barito.

2. Datu Hamawang atau Datu Bungkul. Zuriyat beliau sekarang ada di Hamawang, Sungai Raya, Sungai Kali, Sarang Halang, Pagar Haur, Malutu dan Sungai Kudung.

3. Datu Tambunau atau TUMENGGUNG ANTALUDIN. Zuriyat beliau adalah Pambalah Batung dan Datu Dambung, dan sekarang zuriyat beliau ini ada di sekitar Sungai Kudung, Madang, Padang Batung, Kaliring, Hamawang, Sungai Gula, Puruk Cahu, Sumatera dan daerah Pegunungan Meratus (Gunung Panginangan Ratu dan Cantung). Datu Tambunau terkenal sebagai pejuang yang sakti mandraguna, pantang menyerah terhadap penjajah Belanda. Konon beliau mempunyai baju layang yang bisa digunakan sebagai sayap untuk terbang. Setelah peperangan melawan Belanda (Perang Gunung Madang) selesai, beliau bertapa di Gunung Panginangan Ratu. Dari nama beliau itulah akhirnya Kandangan di namakan BUMI ANTALUDIN, karena beliau dengan gagah berani mempertahankan Kandangan dari penjajah Belanda di benteng madang.

4. Datu Salayan (Datu Ibuk) bergelar Ratu Kumala Sari atau Ratu Mayang Sari, yang kemudian kawin dengan Datu Basuhud. Mereka akhirnya menetap di Alai Barabai. Zuriyat beliau sekarang ada di Hamawang, Sungai Kudung, Banyu Barau, Gambah, Alai (Barabai) dan Malaysia.


10 komentar:

  1. Sejarah yang membuktikan bahwa urang Kandangan, teguh melawan penjajah....Semoga pemerintahan sekarang tdk mengkhianati nilai-nilai luhur para pejuang yang rela mati syahid demi kehormatan agama Islam...............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejarah juga yang membuktikan bahwa urang Kandangan begitu banyak mengalami peperangan dan sangat banyak berjasa dalam memerdekakan kalimantan selatan.

      Hapus
  2. Makasih banyak atas kunjungannya.

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. http://id.wikipedia.org/wiki/Padang_Batung,_Hulu_Sungai_Selatan

      Hapus
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Antaludin
    http://dkhss.blogspot.com/2010/03/benteng-madang.html

    Di atas ini alamat web yang menjelaskan tentang benteng madang di desa sungai madang kecamatan padang batung kabupaten hulu sungai selatan, kandangan.
    Kalau ingin melihat sungga (jebakan besi yang ditanam di sekitar benteng madang), anda bisa melihatnya di museum banjar baru.

    BalasHapus
  5. kisah di Longawang Kecamatan Telaga Langsat adalah ka Kamal ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. http://dkhss.blogspot.com/p/sejarah.html

      Hapus
  6. http://dunia-fortal.blogspot.com/2011/07/ibnu-hajar.html

    BalasHapus