Selasa, 03 November 2026

Kamal Ansyari

Kamal Ansyari adalah seorang blogger, penulis, dan pemerhati sejarah lokal asal Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.

Ia dikenal secara luas di ruang digital karena mendedikasikan tulisan-tulisannya untuk mendokumentasikan, merawat, dan memublikasikan sejarah, cerita rakyat, serta asal-usul budaya di tanah kelahirannya melalui platform blog pribadinya, Kandangan dan Kamal Ansyari.
Berikut adalah poin penting mengenai kontribusi dan tulisan Kamal Ansyari:
  • Pencetus Frasa Kebanggaan Lokal: Ia adalah penulis esai populer berslogan "Kandangan Kota Petarung: Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah". Tulisan ini menguraikan alasan historis mengapa karakter masyarakat Kandangan dikenal tangguh dan gigih menghadapi penindasan sejak era kolonial Belanda hingga revolusi fisik.
  • Pendokumentasi Tokoh Pejuang Daerah: Melalui catatan digitalnya, ia mengulas kisah pahlawan dan tokoh lokal dari bumi Antaluddin yang jarang masuk ke dalam buku sejarah nasional, seperti kisah kepahlawanan Tumenggung Antaluddin dalam Perang Banjar dan perjuangan Panglima Bukhari dalam peristiwa Amuk Hantarukung.
  • Pelestari Legenda dan Mitologi Amandit: Selain sejarah riil, Kamal aktif menulis cerita rakyat dan legenda yang hidup di masyarakat hulu sungai, seperti legenda Datu Naga Ningkurungan dari Loksinaga serta kisah kesaktian Datu Hamawang (Tumenggung Raksa Yuda).
Di dunia maya, ia juga dikenal dengan nama profil sosial media Kamal Rider atau Abahnya Naira dan Haikal, yang menetap di wilayah Antaluddin, Kandangan Utara. Lewat ketelatenannya menulis, arsip sejarah lisan dan lokal wilayah Hulu Sungai Selatan dapat dengan mudah diakses dan dipelajari oleh generasi muda saat ini.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Kandangan dikenal sebagai "kota petarung" karena sejarah panjang keberanian warganya, tradisi kepemimpinan hulu balang dan jawara yang lekat dengan senjata tajam tradisional, serta peran pentingnya sebagai pusat perlawanan pada masa kolonial hingga revolusi fisik (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung dan basis Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan).


Asal-Usul Julukan dan Karakter Wilayah


• Tradisi Hulu Balang dan Jawara: Masyarakat Kandangan memiliki akar sejarah di mana para hulu balang dan jawara kerap membawa senjata tajam (seperti parang bungkul) untuk menjaga keamanan dan kehormatan wilayah.

• Perlawanan terhadap Kolonial: Sejarah mencatat berbagai perlawanan keras rakyat setempat terhadap penindasan kolonial Hindia Belanda, salah satunya insiden berdarah Amuk Hantarukung di Distrik Amandit (Kecamatan Simpur) pada September 1899.

• Pusat Revolusi Fisik: Pada masa kemerdekaan, Kandangan menjadi basis pertahanan penting bagi Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan, serta melewati masa-masa gejolak sosial pasca-kemerdekaan (zaman gerombolan).

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Minggu, 01 November 2026

Kandangan Kota Petarung

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah

Oleh: Kamal Ansyari

Kandangan merupakan ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kekayaan kuliner seperti Ketupat Kandangan dan Dodol Kandangan, tetapi juga memiliki sejarah perjuangan, tradisi, serta karakter masyarakat yang kuat.

Ungkapan “Kandangan Kota Petarung” merupakan gambaran semangat dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat Kandangan. Petarung dalam konteks ini bukan sekadar orang yang berani mengangkat senjata atau bertanding secara fisik, melainkan pribadi yang memiliki keberanian, keteguhan hati, harga diri, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.

1. Kandangan dan Sejarah Perjuangan

Hulu Sungai Selatan memiliki catatan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan. Semangat perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya.

Kisah perjuangan para pendahulu mengajarkan bahwa kemerdekaan, kehormatan, dan martabat bangsa harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Karena itu, semangat petarung hendaknya dimaknai sebagai keberanian membela kebenaran, menjaga kehormatan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

2. Parang Bungkul sebagai Identitas Budaya

Salah satu benda budaya yang memiliki hubungan dengan identitas Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah Parang Bungkul.

Parang Bungkul dikenal sebagai senjata tradisional khas daerah Kandangan dan menjadi salah satu unsur dalam lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Keberadaan Parang Bungkul mengingatkan kita pada warisan budaya, keberanian, dan semangat masyarakat dalam menjaga jati diri daerah.

Parang bukan untuk mengajarkan kekerasan, tetapi menjadi pengingat sejarah dan tanggung jawab generasi penerus untuk melestarikan warisan leluhur.

3. Jiwa Petarung Masyarakat Kandangan

Jiwa petarung masyarakat Kandangan dapat diwujudkan melalui beberapa sikap:

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.
  • Menjaga kehormatan dan harga diri.
  • Memiliki semangat gotong royong.
  • Menghormati orang tua dan para pendahulu.
  • Menjaga adat istiadat dan budaya daerah.
  • Berani menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan.

Inilah makna petarung yang sesungguhnya: kuat dalam prinsip, santun dalam pergaulan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

4. Kekayaan Budaya Kandangan

Kandangan mempunyai kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Di antaranya:

  • Parang Bungkul sebagai warisan budaya daerah.
  • Ketupat Kandangan sebagai kuliner khas.
  • Dodol Kandangan sebagai makanan tradisional.
  • Bahasa Banjar sebagai identitas komunikasi masyarakat.
  • Tradisi keagamaan dan gotong royong.
  • Kekayaan budaya Dayak Meratus di kawasan Loksado, termasuk tradisi Aruh Ganal.

Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

5. Generasi Muda sebagai Petarung Masa Kini

Pada masa sekarang, perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Tantangan generasi muda jauh lebih luas, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, pergaulan, hingga menjaga moral dan akhlak.

Generasi muda Kandangan harus menjadi petarung dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan, olahraga, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jangan sampai generasi penerus hanya bangga dengan sejarah masa lalu, tetapi tidak mampu menciptakan prestasi pada masa sekarang.

Petarung sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan kemalasan, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi narkoba, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

6. Penutup: Menjaga Nama Baik Kandangan

Kandangan bukan hanya sebuah kota, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Semangat “Kandangan Kota Petarung” hendaknya menjadi motivasi untuk membangun masyarakat yang berani, berkarakter, berbudaya, religius, dan berprestasi.

Mari kita jaga warisan leluhur, hormati sejarah perjuangan, lestarikan budaya, dan bangun masa depan dengan ilmu pengetahuan serta akhlak mulia.

KANDANGAN KOTA PETARUNG!

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah!

Berani karena benar, kuat karena bersatu, dan bermartabat karena berakhlak.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 KANDANGAN – KOTA PETARUNG

Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang perjuangan dan keberanian masyarakatnya.

Julukan Kota Petarung dapat menjadi ungkapan kebanggaan terhadap:

Semangat Pejuang: mengenang perjuangan rakyat Hulu Sungai Selatan.

Keberanian: melambangkan keteguhan dan pantang menyerah.

Parang Bungkul: salah satu identitas budaya dan lambang daerah.

Jiwa Kesatria: menjunjung kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab.

Harga Diri: menjaga adat, budaya, dan martabat daerah.

Jumat, 27 April 2012

Sejarah di seputar Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

TUMENGGUNG ANTALUDDIN :
Tumenggung Antaluddin adalah seorang Panglima Perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang Kandangan di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.Pada masa itu Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan pasukan Tumenggung Antaludin terkumpul di sekitar benteng ini pada bulan September 1860.

PANGLIMA BUKHARI DARI HANTARUKUNG : 
Panglima Bukhari dari Hantarukung (lahir : 1850 di Hantarukung, Simpur Kandangan, Hulu Sungai Selatan, wafat : 19 September 1899 di Hantarukung, Simpur Kandangan, Hulu Sungai Selatan). Panglima Bukhari adalah salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung yang terjadi di masa Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Ayah Bukhari bernama Manggir dan ibu bernama Bariah kelahiran desa Hantarukung, dalam wilayah Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Bukhari dilahirkan sekitar tahun 1850 dan semasa mudanya mengembara ke Puruk Cahu (Murung Raya, Kalimantan Tengah) mengikuti pamannya Kasim yang menjadi panakawan (ajudan) dari Sultan Muhammad Seman. Sejak itu Sultan Muhammad Seman menjadikan Bukhari sebagai panakawan (ajudan) Sultan, dan Bukhari ikut berjuang di daerah Puruk Cahu, Kalimantan Tengah.Bukhari seorang yang setia mengabdikan dirinya. Ia orang yang dipercaya sebagai Pemayung Sultan. Ia dikenal di kalangan istana sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan. Bahkan tersiar berita bahwa dengan ilmunya itu kalau ia tewas dapat hidup kembali. Ilmu ini diajarkan kepada siapa yang menjadi pendukungnya. Adanya kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut, menyebabkan dia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Banua Lima, Kalimantan Selatan. 

GEROMBOLAN IBNU HAJAR : 
Ibnu Hajar, lahir di desa ambutun kandangan kabupaten hulu sungai selatan. Ibnu Hajar dengan nama asli Angli atau Haderi bin Umar, ayahnya berasal dari ambutun dan ibunya berasal dari suku dayak tepatnya di daerah puruk cahu kalimantan tengah. ketika masa kecil Ibnu Hajar adalah sosok yang pemberani. sampai menjelang dewasa dia bergabung dengan tentara pejuang pimpinan Brigjen Hasan Basri (Bapak Gerilya Kalimantan Divisi IV ALRI) yang juga berasal dari Padang Batung kandangan melawan penjajah belanda.Ketika saya berjalan-jalan ke Telaga Langsat dan sekitar Loksado, nama Ibnu Hajar seakan melegenda di benak mereka. Muncul pertanyaan, kenapa tokoh kita yang dicap oleh pemerintah sebagai pemberontak, akan tetapi di masyarakat pendukungnya ia ada dan melegenda. Saya sadar persis, dalam sejarah ada persoalan interpretasi. Tinggal kita memilih dari sudut mana Ibnu Hajar dilihat.

BRIGJEN H. HASAN BASRI : 
Brigjen H. Hasan Basri (lahir di Padang Batung Kandangan, Hulu Sungai Selatan, 17 Juni 1923 - meninggal di Jakarta, 15 Juli 1984 pada umur 61 tahun) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia dimakamkan di Simpang Tiga, Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dianugerahi gelar Pahlawan nasional Indonesia dan Bapak Gerilya Kalimantan berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 110/TK/2001 tanggal 3 November 2001. 

PROKLAMASI KALIMANTAN SELATAN :
Merdeka!
Dengan ini kami rakjat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinja Pemerintah Gubernur Tentara dari "A.L.R.I" melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan mendjadi bagian dari Republik Indonesia, memenuhi Proklamasi 17 Agustus 1945 jang ditandatangani oleh Pres. Soekarno dan Wakil Pres. M. Hatta. Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperdjuangkan sampai tetesan darah jang penghabisan.
Tetap Merdeka
Kandangan, 17 Mei Th. IV Rep.
Atas nama Rakjat Indonesia Di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara,
Hassan Basry

Kamis, 22 Maret 2012

DATU NAGA NINGKURUNGAN LOKSINAGA AMANDIT KANDANGAN

Di sebuah desa di Kalimantan Selatan tinggallah sebuah keluarga yaitu seorang suami, istri dan anaknya. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah bertani. Mereka bertiga hidup dari hasil bertani dan selalu mengerjakan lahan mereka dengan tekun dan rajin. Sehingga mereka selalu berkecukupan. Mereka hidup dan tinggal di daerah yang disebut dengan nama Lukloa atau Loksinaga yaitu suatu perkampungan yang tepatnya terletak di Kandangan ( Kabupaten Hulu Sungai Selatan ).
Pada suatu hari, kedua petani tersebut mencari ikan di batang Amandit ( sungai Amandit ) sebagai lauk untuk makan pada hari itu. Peralatan yang digunakan untuk mencari atau menangkap ikan tersebut adalah tangguk ( alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu yang dipotong kecil-kecil dan disusun sedemikian rupa ).
Setelah sekian lama mencari ikan di batang tersebut, tidak ada satu ekor ikan pun yang masuk ke dalam tangguk mereka. Mereka hampir putus asa dengan keadaan tersebut. Tetapi kemudian sang suami mendapatkan sebiji telur besar, dengan senangnya dia bergegas menghampiri istrinya dan sambil memperlihatkan telur yang diperoleh kepada istrinya, “Istriku sayang… coba lihat apa yang aku bawa ini.” Sang istri langsung menoleh ke arah suaminya. “apa itu suamiku, telur apa itu ?”. Karena rasa curiganya dan was-was, sang istri justru menyarankan agar telur tersebut dibuang. “Kenapa harus dibuang istriku, ini nanti kan bisa untuk lauk kita?” Hari kan sudah semakin siang kita belum mendapatkan ikan untuk lauk makan hari ini. Apa tidak kasihan dengan anak kita, makan tanpa lauk karena kita belum mendapatkan ikan? “Sudahlah suamiku, buang saja telur itu, kita kan tidak tau asal usulnya telur itu”. Walau dengan berat hati dan perasaan kecewa, tapi demi sang istri telur tersebut akhirnya dibuang oleh sang suami ke arah hulu sungai Amandit.
“Sudahlah suamiku, ayo kita teruskan untuk mencari ikan, siapa tau Tuhan memberikan rizki untuk kita”. “Baiklah istriku, ayo kita teruskan mencari ikannya, mudah-mudahan Tuhan mengabulkannya”. Petani tersebut kembali melanjutkan mencari ikan dengan tangguknya dan berharap segera mendapatkan ikan untuk dimakan pada hari itu. Namun ternyata usaha mereka sia-sia belaka, tidak ada satu ekor ikan pun yang mereka dapatkan di hari itu. Tapi anehnya telur yang tadinya dibuang kembali lagi masuk ke dalam tangguk mereka. Berkali-kali telur itu dibuang, tetap saja telur itu masuk kembali ke tangguknya. Karena hari sudah mulai siang dan ikan tidak juga didapat, maka akhirnya mereka memutuskan membawa telur tesebut ke rumah untuk dimakan sebagai pengganti ikan.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah, sambil berbincang-bincang sang suami menjelaskan kepada sang istri kalau dia tak perlu risau tidak mendapatkan ikan, karena mereka sudah mendapatkan telur sebagai pengganti ikan dan inilah rejeki mereka pada hari ini. Setelah sampai di rumah telur pun dimasak oleh sang istri untuk dijadikan lauk saat makan nanti.
Pada waktu makan bersama, sang istri dan anaknya tidak mau memakan telur yang tadinya dimasak karena takut dengan keadaan telur yang berbeda dari telur biasanya. Telurnya berukuran besar sehingga menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dari sang istri. Saat sang istri memasak telur perasaannya selalu tidak enak. Daripada tidak ada yang mau memakan telur yang tadinya dimasak, maka sang suami itu sendiri yang memakannya. Usai memakan telur tersebut sang suami merasa kenyang. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba timbul rasa gatal-gatal disekujur tubuhnya dan dari kulit sang suami itu muncul sisik-sisik yang menyerupai seperti sisik naga.
Lama-kelamaan sang suami berubah menjadi seekor naga yang berwarna putih dan semakin hari sang naga semakin bertambah besar. Akibat dari perubahan sang suami yang menjadi seekor naga, sang istri dan anaknya merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Kemudian naga tersebut diturunkan ke tanah melalui tangga dari dua buah batang pinang muda yang dibuatkan oleh keluarganya dan sampai kesebuah parit kecil.
Sang naga kemudian melakukan perjalanan ke hilir sungai Amandit. Ternyata di dasar sungai Amandit ini sang naga mendapatkan liang ( lubang besar ) dan kerena kelelahan setelah melakukan perjalanan, maka sang naga memutuskan untuk beristirahat dan tertidur di dalam liang yang baru ditemukannya tersebut. Padahal, liang yang ditempati oleh sang naga Putih tersebut merupakan tempat tinggal dari seekor naga yang berwarna Habang ( merah ) yang tadinya pergi mencari makan.
Ketika naga Habang kembali, dia sangat terkejut karena di dalam liangnya sudah terdapat seekor naga yang berwarna Putih. Keadaan itu membuat naga Habang menjadi marah. Kedatangan naga Habang ke dalam liangnya, membuat naga Putih terkejut sehingga terbangun dari tidurnya.
Naga Habang tidak bisa menerima karena liangnya ditempati oleh naga Putih sehingga terjadilah sebuah perkelahian yang sangat hebat. Namun perkelahian ini tidak seimbang karena naga Putih tidak mempunyai taring seperti naga Habang. Perkelahian ini akhirnya dimenangkan oleh naga Habang. Kekalahan ini membuat naga Putih harus meninggalkan liang yang baru didapatnya. Sang naga Putih kembali ke hulu menemui istrinya dan mengadukan perihal kekalahannya dalam perkelahian melawan naga Habang di liang yang baru ditemukannya. Untuk merebut kembali liang yang ditemukan oleh naga Putih tersebut, dia disarankan oleh sang istri agar memasang pisau yang tajam dikiri dan kanan mulutnya agar menyerupai sepasang taring milik naga Habang. Saran ini disetujui oleh naga Putih dan meminta kepada istrinya untuk membantu memasangkan pisau tersebut ke kiri dan kanan mulutnya sebagaimana yang disarankan oleh sang istri.
Setelah pisau terpasang, dengan senang dan semangat naga Putih kembali menuju ke liang untuk menuntut balas atas kekalahannya kepada naga Habang. Mereka kembali melakukan perkelahian, pada perkelahian kali ini naga Habang mengalami luka disekujur tubuhnya akibat taring buatan ( pisau ) yang dimiliki oleh naga Putih, sehingga naga Habang dapat dikalahkan oleh naga Putih. Karena banyaknya luka yang dialami oleh naga Habang, sehingga dia tewas di tangan naga Putih. Akibat banyaknya darah yang dikeluarkan oleh naga Habang pada saat perkelahian, seketika itu pula air sungai berubah menjadi merah berkilauan akibat darah yang dikeluarkan dari tubuh naga Habang dan memantulkan cahaya beraneka ragam warna yang indah merona di langit senja.
Setelah pertarungan usai, sang naga Putih bergegas kembali menuju ke hulu sungai Amandit untuk memberikan kabar gembira kepada sang istri. “Istriku sayang, aku datang membawa berita gembira”. “Kabar apa suamiku, kelihatannya gembira sekali ?” “Bagaimana tidak gembira, aku ternyata bisa mengalahkan si naga Habang itu. Ini semua berkat ide yang kau berikan serta doa tulus yang selalu kau berikan untukku. Aku merasa yakin bahwa kesetiaan dan cinta sucimu tetap seperti dulu. Meskipun aku telah berubah wujud menjadi seekor naga putih. Aku telah dapat mengalahkan naga Habang bahkan membuat naga Habang tewas. Sang istri juga ikut merasa bahagia atas kemenangan yang didapat oleh sang suami ( naga Putih ). Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang suami menyadari kalau mereka tidak mungkin bersatu dan hidup bersama lagi. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan wujud diantara mereka.
Derai air mata dan isak tangis diantara mereka tidak bisa dibendung lagi. Sebagai tanda kecintaan dan kesetiaan naga Putih terhadap anak dan istrinya, ia meninggalkan pesan terlebih dahulu kepada keduanya. Pesan tersebut adalah “apabila merasa rindu dan ingin bertemu kepadaku ( naga Putih ), maka akan turunlah hujan, setelah itu panas, kemudian rintik dan pada akhirnya muncul pelangi. Selagi masih ada pelangi di angkasa, itu tandanya aku masih hidup dan cinta suciku selalu untuk kalian. Dan mulai saat ini, panggillah aku ( naga Putih ) dengan sebutan Balahindang”. Balahindang kemudian kembali ke liangnya ke dasar sungai Amandit dan bersemayam disana untuk selama-lamanya.
Demikianlah kisah tentang kedua petani yang pada akhirnya terpisah karena keadaan mereka. Walaupun cerita ini berbau mistis, tapi kejadian kisah ini diyakini oleh sebagian masyarakat Kandangan, khususnya orang-orang tua yang berada di daerah Lukloa, di aliran sungai Amandit, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.